Nggak Cuma Cuap-Cuap

 Oleh Anggrahini KD
Di Harian SM 03 juli 2011 Hal C

"Lantaran hobby ngobrol, teman-teman juga bilang, aku cocok jadi penyiar radio. Ya, sebenarnya pengin juga. Tapi, aku nggak tahu gimana mulainya," Keluh Winda (16).

Sejak kecil, Winda emang sering mendengarkan radio. Setiap menjelang berangkat sekolah, sambil bersiap-siap, ia menyempatkan diri mendengarkan radio yang memutar lagu-lagu yang sedang in. Nggak jarang, cewek berlesung pipit ini juga menelepon untuk berkirim salam.
"Kadang aku ngobrol agak lama dengan penyiarnya. Rasanya bangga, suaraku bisa ikut mengudara, walaupun cuma dengan lewat telepon kirim salam."
Hmmm, biar nggak bingung lagi, mungkin Winda bisa belajar dari pengalaman Siti Liyana Rahmadani (18). Cewek yang baru lulus dari SMA 4 Semarang ini sudah tiga bulan ini mencicipi dunia broadcasting. Sama seperti Winda yang emang udah jadi pendengar setia radio, Yana begitu ia dipanggil, awalnyamemanfaatkan jejaring sosial Facebook untuk mengetahui informasi mengenai dunia radio.
"Awalnya aku berteman dengan beberapa pemilik akun FB radio di Semarang untuk mendapatkan alamat radio itu satu-persatu. Ya sudah, akhirnya aku memberanikan diri kirim lamaran dan CV."
Nggak tanggung tanggung, Yana mengirimkan lamaran ke beberapa stasiun radio sekaligus. Walau awalnya nggak berharap apa-apa karena merasa jam terbangnya belum tinggi, akhirnya keberuntungan berpihak. Cewek yang sedang sibuk mencari kampus untuk meanjutkan studinya ini akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan salah satu radio swasta di Semarang.
Berhubung masih gress, Yana mengaku masih kesulitan beradaptasi dengan pendengar yang berinteraksi melalui telepon. Meski begitu, ia optimis bisa menyesuaikan diri dengan cepat, seiring dengan pengalaman dan jam terbang.
"Sebelunya aku berpikir, penyiar hanya sebatas berbicara. Tapi setelah mengalami sendiri, ternyata banyak tekhnik yang perlu dikuasai, termasuk mengatur waktu sesuai rundown".
Beda dengan Yana yang nekat kirim lamaran ke sana kemari, Dea Fadhilahayu (18) mendapatkan kesempatan jadi penyiar berkat mengikuti casting penyiar sekolah yang diadakan salah satu radio swasta. Berawal dari ketertarikannya pada dunia entertainment, cewek yang baru lulus dari SMA 3 Semarang ini berkeinginan bekerja pada bidang tersebut.
" Pas banget. Berkat jadi penyiar aku bisa ketemu artis dan musikus yang aku suka. Bisa menambah network, terutama dari kalangan entertainer."
WAH kalau begitu, jadi penyiar radio itu enak ya. Tinggal ngomong, cuap-cuap, bisa ketemu figur publik juga. Eits, tunggu dulu, jadi penyiar nggak asal cuap-cuap loh! Menurut Dea, penyiar harus memahami kebutuhan pendengar alias nggak boleh egois. Selain itu, kudu jago acting. Loh kok bisa?
"Kalau misal menghadapi pendengar yang tinggkahnya aneh-aneh dan bikin dongkol, penyiar hanya bisa ngekus dada saja. Nggak boleh marah," imbuh Adelia Lilia Dewi (20).
Sejak kelas 2 SMA, mahasiswi jurusan Teknik Mesin Polines ini bersiaran. So nggak heran cewek yang punya nama siar Adella ini punya banyak pengalaman, terutama berkaitan dengan penggemar. Sering penggemar-pengemarnya datang ke studio untuk membawakan makanan. Ada juga yang suka curhat di luar jadwal siaran.
" Gimana lagi, penyiar itu penghibur. Kesannya, saat berinteraksi dengan penyiar emang kudu cerdas. Nggak bisa ditawar-tawar lagi, seorang penyiar kudhu rajin upgrade wawasannya biar nggak basi. Pendengar yang melontarkan pertanyaannya di luar topik, bisa jadi bomerang yang mempermalukan kalau si penyiar nggak bisa mengatasi.
Nah, kalau Teman Swara Muda tertarik pengin jadi penyiar, sebenarnya latihannya cukup gampang, Yakni dengan membiasakan diri untuk mengobrol. Selain mengasah kecakapan untuk berbicara, mengobrol juga bisa bikin terbiasa merespon pandangan atau pemikiran orang lain. Kalu memang punya minat besar di dunia penyiaran, nggak susah cari kursus atau sekolah broadcasting. Atau bisa juga meniru langkah teman-teman diatas yang rata-rata memakai rumus learning by doing a.k.a terjun siaran dari nol!
By the way, apa sich yang didapat teman-teman penyiar dari pekerjaannya selama ini?
"Selain penggemar yang baik banget, aku juga dapat honor yang bisa buat foto copy tugas kuliah, beli pulsa, juga beli baju," tutup Adella sambil tergelak.
Wah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui dong!



Kata Pakar
Shanty Rosalia (Penyiar)


Tak Hanya Suara Emas
Radio adalah suara. Maksudnya, radio siaran itu medium yang hanya bisa didengar karena sifatnya yang auditif. Makanya suara menjadi aset terpenting bagi seorang penyiar. Tapi memiliki suara indah itu sudah jamak. Seorang penyiar radio yang baik ternyata tidak hanya bermodal suara emas. Perlu modal lainnya seperti wawasan, percaya diri, sense of music dansense of humor.
"Bagaimana orang akan tertarik dengan yang kita siarkan kalau kita sendiri tidak yakin", jelas Shanty Rosalia, seorang penyiar senior radio Smart FM Semarang.
Menurut perempuan yang juga menjadi area manager Semarang Surabaya Smart Fm network, penyiar kudu butuh ketrampilan tertentu dalam membawakan siaran sehingga ia harus berwawasan agar siarannya bisa hidup, dinamis, dan tidak monoton. Improfisasi hanya bisa dilakukan oleh penyiar berwawasan luas. "Karena itu harus memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, berwawasan luas karena banyak mendengar, membaca, diskusi dan semua hal yang membuat kita semakin berisi", imbuh peraih rekor Muri untuk pemandu talk show selama lima belas jam dengan tiga puluh narasumber 2005 silam. Tapi, dengan hal yang disebut diatas juga tidak akan berhasil jika seorang penyiar tidak terus mengasah ketrampilannya. Trik nya harus terus dilatih, karena bersiaran itu bagian dari ketrampilan. Perempuan yang sudah malang melintang selama 22 tahun di dunia ke penyiarannya ini menambahkan, " melatih diri bisa dilakukan dengan banyak cara. Bisa belajar dari penyiar yang sudah senior, memperdalam basis siaran bagaimana cara olah vokal, scribwritting, produksi bahkan hunting sebagai reporter. Dan tentu sja seorang penyiar harus belajar disiplin."
 Menurut Shanty, mengatur waktu menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika menjadi seorang penyiar. "Mengelola waktu sangat penting karena bersiaran itu harus tepat waktu. Tapi hal tersebut tidaklah sulit asal seseorang berpegang pada prinsip " be Yours Self" dan juga tidak lebay. Apalagi menurutnya profesi penyiar merupakan profesi yang sangat mengasikkan. Yang awalnya hanyalah skedar hobby menjadi keterusan karena mengasikkan. Apalagi bisa sampai bertemu dengan orang-orang TOP, kita bisa jadi ikutan ngeTOP," imbuhnya sembari tertawa.
NONI ARNEE*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts

PANITIA INDONESIA NETWORK (JUKLAK) RAMADHAN NET KONTES 2012 [1433 Hijriyah] MAKSUD DAN TUJUAN : Memeriahkan Bulan suci Ramadhan serta menyambut hari Raya Idhul Fitri ...

Entri Populer

Arsip Blog